Selamat Datang Di Suara Jateng inspiratif dan humanis
Berita Jateng

Menengok Petani Rumput Gajah Mini


TENGARAN—Jika mendengar rumput, tentu akan muncul pada pikiran masyarakat tentang gulma. Padahal tidak semua rumput adalah tanaman pengganggu. Hal ini yang mendasari masyarakat di Kaligandu, Kecamatan Tengaran beramai-ramai menanam rumput jenis gajah mini di pekarangannya. Alasannya, harga satu meter pesegi rumput gajah mini sekarang mencapai harga Rp. 12 ribu.

Pun, para pengepul sudah beramai-ramai mencari rumput gajah mini, untuk dijual kembali ke kota-kota besar. Bahkan harga rumput gajah mini tahun 2006-2007 sempat menginjak angka Rp. 30 ribu permeter persegi. Sekarang dengan menjamurnya warga yang beramai-ramai menanam, harga rumput hajah mini anjlok. Tapi tetap tidak mengurangi keuntungan warga karena rumput gajjah dibiarkan bisa tumbuh sendiri. Hanya perlu menyiangi rumput yang tumbuh di selal-sela rumput gajah mini yang belum rapat.

Ngatiri, petani rumput gajah mini, warga RT 1, RW 1, Desa Kaligandu, mengatakan, rumput gajah bisa menjadi penghasilan tambahan selain berladang dan beternak sapi. Perawatannya cukup mudah. Tidak perlu dipupuk atau disirampun 3 hari sekali. Hanya perlu membersihkan beberapa rumput yang tumbuh di sela-sela rumput.

Paling baik menanam rumput gajah mini adalah saat musim hujan. Air hujan yang melimpah, membuat rumput cepat tumbuh. Karena tidak repot menyiram. Dari tanam sampai panen biasanya membutuhkan waktu 3 bulan. Dan tidak perlu repot-repot mencari pembeli. Karena jika sudah rapat, banyak pengepul dari luar kota, khususnya Solo yang datang ke sini. Kemudian dijual lagi ke pengembang perumahan atau pembuat taman.

“Harga bervariasi ada yang sembilan ribu tapi mengambil rumput sendiri, atau dua belas ribu sudah di dalam karung tinggal ambil,” ungkapnya.

Tri, 42,  petani  rumput gajah mini, warga RT 1, RW 1, menuturkan hal senada, rumput di pekarangannya seluas 1000 meter, dalam satu tahun bisa panen sebanyak tiga kali. Penanaman rumput gajah mini harus sabar. Karena harus ditanam satu persatu. Jika langsung permeternya lama rapatnya. Sehingga lama juga dipanennya.

 “Ukurannya adalah jika rumput sudah rapat, berarti siap dipanen,” ungkapnya.

Dirinya yang juga bekerja sebagai karyawan pabrik di Kabupaten Semarang, merasa terbantu dengan menanam rumput gajah. Karena jika tidak dijualpun menambah keindahan pekarangan rumahnya. (Suara Jateng)

Bahaya Limbah Tatto

SALATIGA—Maraknya penggemar tato di kalangan remaja di Salatiga belakangan ini dikhawatirkan banyak pihak. Pasalnya strerilisasi jarum jika tidak diperhatikan dapat menjadi sarana penularan Virus HIV AIDS. Maka dari itu, perlu dilakukannya pengawasan, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena seiring menjamurnya tren tato di kalangan remaja, jasa tato di daerah kampus di Salatiga juga ikut menjamur. 

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga, Sovie Harjanti mengingatkan kepada para penggemar seni tato yang kini mulai marak di Salatiga agar berhati-hati. Sofie menyebutkan, penggunaan jarum untuk keperluan seni tato bisa berpotensi menularkan Virus HIV/AIDS. Terkait hal ini, Sofie mengimbau agar masyarakat berpikir ulang saat akan membubuhkan tato di tubuh.

“Meski belum ada laporan penularan HIV/AIDS melalui jarum tato, kami mengharap masyarakat agar waspada. Jangan sampai karena keinginan sesaat kemudian melupakan perlunya menjaga kesehatan,” terangnya beberapa waktu lalu.

Sovie menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan sosialisasi dan pendataan terhadap para pelaku seni tato di Salatiga. Hal ini, kata dia, untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan adanya penularan HIV/AIDS melalui jarum tato.

Selain itu, jika memang limbah bekas suntikan tadi jumlahnya banyak, tidak bisa dibuang seenaknya atau sembarngan karena bisa membahayakan masyarakat. Khususnya petugas sampah dan pemulung. Bisa saja saat mengambil sampah tertusuk bekas jarum suntik.

“Kalau memang ada laporan dari masyarakat, nanti kami tindak lanjuti. Memang ada wacana untuk melakukan sosialisasi dan pendataan terhadap para pelaku seni tato di Salatiga dalam waktu dekat,” pungkasnya. (Suara Jateng)

Ikan Sulit Didapat, Pengusaha Keripik Resah




TUNTANG—Sejumlah pengusaha home industry keripik ikan water di desa Kesongo, RT 1, RW 1, Tuntang, Kabupaten Semarang mengeluhkan sedimentasi rawa dan enceng gondok lantaran menyebabkan sulit mencari ikan water yang merupakan bahan baku keripik. Hal ini kemudian membuat para pengusaha keripik water mencari bahan baku sampai ke Demak, Wonosobo dan Sragen.

Dari pantauan di desa Kesongo kemarin (24/5) beberapa pengusaha keripik ikan water di dusun Kesongo dan Kesongo Lor hanya tersisa beberapa orang. Diduga latar belakangnya karena sulitnya mencari bahan baku ikan dan tepung yang harga terus naik. Selain itu, jumllah nelayan di Kesongo juga semakin sedikit lantaran pertumbuhan enceng gondok yang semakin lebat. Sehingga menyebabkan perahu nelayan sulit melintas.

Yusuf, 43, pengusaha keripik water di RT 1, RW 1, Desa Kesongo, mengatakan, dahulu karena saking banyaknya water di Rawa Pening, sampai water hanya menjadi pakan bebek dan ayam. Sekarang saat masyarakat bisa membuat water menjadi sesuatu yang layak jual dan konsumsi. Water malah sulit didapat.


Padahal jika ada perawatan dan penanaman benih ikan di Rawa Pening, tentu bisa memberi pekerjaan kepada masyarakat di pinggiran Rawa. Hal ini tentu dapat mengurangi jumlah masyarakat yang masih menganggur.

“Memang enceng Gondok juga menjadi mata pencahariian bagi sejumlah masyarakat di pinggiran rawa. Tapi saya pikir lebih baik jika ikan, enceng gondok dan pupuk dikombinasikan. Agar nelayan kembali merawa dan penangkaran ikan kembali marak di Rawa,” ungkapnya.

Ditambahkan Yusuf, mengenai bahan baku selain ikan, dirinya berharap pemerintah melakukan terobosan agar dapat mengontrol harga-harga bahan baku di lapangan. Karena menurutnya semakin hari pengusaha kecil menengah semakin terhimpit.

Hal senada juga diungkapkan Taufik, 28, pengusaha keripik ikan di Sejambu, menurutnya pengembangan Kesongo dan Sejambu menjadi desa kripik Water perlu mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten. Karena selain air dan geliat masyarakat ada, pemerintah hanya perlu mendorong masyarakkat.

“Kami berharap ada perhatian dan dorongan dari pemerintah. Selain promosi dan menyemarakkan budidaya ikan lagi,” pungkasnya. (Suara Jateng)

Budidaya Jamur

KABUPATEN SEMARANG—Geliat Petani Jamur Tiram di sejumlah wilayah di Kecamatan Tengaran mulai menjamur. Hal ini karena kebutuhan jamur tiram di pasar meningkat signifikan. Selain itu penanaman jamur tidak memerlukan lahan yang luas. Pun, hasilnya dapat menambah pendapatan sehari-hari. Juga perawatannya tidak sulit.

Di Dusun Krajan 1, RT 2, RW 1, Desa Bener, Kecamatan Tenggaran, Kabupaten Semarang, terhitung tiga warga sudah menanam jamur di pekarangan rumahnya. Jumlah ini akan terus bertambahh seiring dengan banyak warung makan yang mulai menyediakan menu khusus jamur. Sehingga pengepul Jamur Tiram mualai masuk desa untuk mendapatkan jamur tersebut. Di pasarpun, jamur sudah bukan barang istimewa. Hampir seluruh masyarakat menganggap jamur seperti sayur biasa.

Slamet Afandi, 69, petani jamur di warga Dusun Krajan 1, Desa Bener, Kecamatan Tenggaran, Kabupaten Semarang mengatakan, permintaan jamur di Bener cukup banyak hamper 1 kwintal setiap hari. Tapi karena mereka hanya untuk konsumsi tentu tidak bisa banyak. Akhirnya berapapun jumlah jamur oleh tengkulak tetap diambil.

Di pengepul, jamur dibeli dengan harga Rp. 7000 sampai Rp. 8000. Jika dijual di pasar harganya bisa mencapai Rp. 10.000 sampai Rp. 12.000. Jika satu hari dapat mengumpulkan jamur di 500 baklog, hasil jamur bisa mencapai kurang lebih 20 kg. Bisa dikalikan sendiri, kalau mempunyai ribuan backlog.

“Faktor ini yang memacu beberapa warga membuat tempat penanaman jamur di halaman mereka,” katanya.


Ditambahkan, penanaman jamur agar berhasil harus ektra hati-hati. Backlog (tempat jamur) diisi dengan sisa limbah kayu lembut (grajen). Kemudian di campur dengan kapur tani, bekatul dan jagung lembut. Kemudian didiamkan selama satu hari dengan ditutup rapat. Jika sudah selesai kemudian dimasukkan ke dalam oven dan ditunggu selama 8 jam. Terakhir diberikan sepora.

“Perawatan hanya disemprot sebanyak 3 kali, secukupnya. Karena jika banyak dapat menyebabkan jamur berair dan mengembang,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Warsidi, 35, warga Dusun Krajan 1, Desa Bener, Kecamatan Tenggaran, Kabupaten Semarang, petani jamur, pemilihan spora yang baik akan menciptakan jamur yang baik. Selain itu pada musim kemarau ini, biasanya jamur mengembang lebih baik. Hanya harus tahu kadar penyiramannya agar selalu lembab.

“Kami ingin desa Bener bisa menjadi sentra jamur, supaya warga bisa mempunyai penghasilan sendiri,” pungkasnya.

Potensi Ternak Sapi Di Tengaran Semakin Mengkhawatirkan




TENGARAN—Potensi penggemukan dan peternakan sapi di desa Klero semakin mengkhawatirkkan. Pasalnya selain kurangnya pembinaan terhadap peternak sapi, kaderisasi peternak juga sangat minim. Akibatnya muncul pola pikir peternak lokal, penggemukan dan peternakan semakin tidak menguntungkan.

Dari pantauan wartawan kemarin (19/5) di beberapa kandang sapi warga di dusun Kuncen, Desa Karang Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, sudah mulai kosong. Padahal banyak lahan hijau yang bisa digunakan pakan ternak. Selain itu, menurut beberapa warga mengatakan memilih anaknya kerja di Pabrik ketimbang meneruskan peternakannya.
Alasannya, penggemukan dan peternakan dinilai sudah tidak lagi menguntungkan. Harga yang tidak bisa stabil dan harga pakan yang tidak menentu, membuat banyak pemeliharaan sapi tidak diminati lagi.

Suprapto, 65, warga dusun Kuncen, Desa Karang Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, mengatakan memang pengelolaan peternakan di Nglero masih banyak yang tradisional. Hanya asal ternak atau penggemukan. Padahal jika ingin melihat dari segi ekonomis, harus melihat kapan harus beli dan jual. Jadi tidak rugi diperawatan.

“Kalau mau penggemukan tepatnya tiga bulan sebelum lebaran atau lebih. Juga perlu ditimbang berat badannya ketika beli agar tahu naik berapa kilo saat ditimbang akan dijual,” ungkapnya.
Selain itu, pakan ternak di Nglero masih banyak. Jikapun ingin menanam sendiri, biaya sewa tanahpun masih murah. Hanya perlu ketelatenan dan perawatan dengan baik. Tentu diperlukan penyuluhan dan menejemen pengelolaan ternak yang baik.

Hal senada juga diungkapkan oleh Darto Suratno, 69, peternak sapi asal Nglero. Dirinya di rumah memelihara 9 ekor sapi. Dengan jenis Sapi Perah dan Pedaging. Menurutnya, memelihara ternak tidak semudah yang dilihat. Perlu perawatan khusus. Tidak asal pelihara. Jika niatnya ternak, harus ada menejemen kandang dan pakan.

Jikapun sakit, pertolongan pertama banyak peternak di daerahnya yang belum mengerti. Beberapa di antaranya karena kebingungan langsung sembelih.
“Masyarakat di sini masih tradisional. Asal pelihara. Padahal jika dikelola dengan baik akan menghasilkan untuk menambah ekonomi masyarakat. Dari daging, susu, sampai kotorannya bisa dijual,” pungkasnya. (abd)

Izin Tower Bermasalah, Diduga Oknum Perangkat Desa Jadi Backing



TUNTANG—Sejumlah warga di RT 01/ RW 06, Karang Tengah, Tuntang meminta pengelola tower di wilayahnya segera melakukan pembongkaran tower. Pasalnya sejak bediri, perizinan tower tersebut tidak beres. Belum lagi izin yang semula hanya 52 meter, bertambah menjadi 72 meter.

Kepada wartawan kemarin (1/4) Prayoga salah satu warga RT 01, RW 06, Karang Tengah, Tuntang mengatakan jika perizinan sampai pengelolaan tower tidak dilakukan dengan baik. Bahkan, pembangunan tower menyalahi ketentuan yang sudah disepakati ketinggiannya.

“Tower ini banyak masalah, sejak berdiri sebenarnya izin tidak beres. Apalagi beberapa waktu lalu dari hasil paparan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten, ditemukan kemiringan 12 sentimeter dan tingginya juga tidak sesuai ketentuan izin yang diajukan yang semula 52 sentimeter menjadi 72 sentimeter,” terang Prayoga, salah satu warga.

Prayoga menambahkan, warga curiga terhadap permainan izin yang dilakukan oleh sejumlah oknum terkait tower tersebut. Bahkan, kata dia, meskipun sudah jelas bermasalah, beberapa waktu lalu warga justru diminta untuk menandatangani perpanjangan izin gangguan oleh oknum perangkat desa. Padahal dalam data yang ia pegang, Prayoga mengatakan, sejak enam bulan lalu, tower milik PT Tower Bersama Group tersebut telah disegel oleh Satpol PP dan dinyatakan dilarang untuk beroperasi.

“Sudah ada segel dari Satpol PP sejak enam bulan lalu dan tidak boleh beroperasi. Tapi hingga saat ini masih beroperasi bahkan ada sejumlah oknum yang seolah ikut melindungi keberadaan tower tersebut,” ungkap Prayoga.

Sementara itu, Lurah Karangtengah, Purwoko, mengatakan pihaknya membenarkan adanya permasalahan tower tersebut. Purwoko menyangkal jika pihaknya melindungi keberadaan tower tersebut dan telah menyerahkan sengketa antara pengelola tower dan warga kepada Kecamatan Tuntang.

“Kami sudah serahkan semuanya kepada pihak kecamatan. Yang penting bagi kami, masalah ini bisa dibicarakan baik-baik dan tidak timbul masalah lagi dikemudian hari,” pungkasnya. (SuaraJateng)

Salatiga Mencoba Optimalisasikan Produksi Pertanian Di Lahan Terbatas

SALATIGA - Ditengah lahan pertanian di Salatiga yang terbatas. Kurang lebih hanya sekitar  700 hektar. Namun Pemkot Salatiga terus berkomitmen meningkatkan produksi pertanian khususnya padi. Maka, Pemkot Salatiga akan terus berupaya mempertahankan lahan pertanian yang ada. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Walikota Salatiga, Muh. Haris dalam dialog dengan masyarakat seusai panen raya di Kelurahan Pulutan pada Kamis, (9/4).

“Bagi para petani, saya imbau supaya lahan pertaniannya dipertahankan, jangan sampai dialihfungsikan, karena sudah ada Perda No.4 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dimaksudkan untuk memberikan proteksi pada lahan pertanian di Salatiga,” ujar Muh. Haris. Saat disinggung mengenai menurunnya jumlah lahan persawahan dalam kurun waktu 2012-2013, Wawali menjelaskan bahwa pada dasarnya penurunan memang tidak bisa dihindarkan jika sudah berhadapan dengan proyek pembangunan nasional.

“Jika sudah berhadapan dengan proyek pembangunan nasional misalnya seperti tol Semarang-Solo, penurunan lahan memang tidak bisa dihindari, tetapi lahan yang digunakan tentunya tetap dipilih dengan lebih cermat, yaitu dengan menghindari persawahan dengan pengairan teknis,” tambah Muh. Haris.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Salatiga, Husnani, mengatakan membagi potensi produksi, seperti pulutan padi dan perikanan. Blotongan sebagai produksi durian, Noborejo, kawasan peternakan. Jadi potensinya melihat wilayah. Kendala petani saat ini kaderisasinya kurang maksimal. Banyak petani berumur 50 tahun ke atas. Tapi untuk peternak ikan malah banyak yang muda-muda.

“Kita akan terus mendorong petani, agar bisa meningkatkan produksi,” tandasnya.

Terkait pengairan sawah pihaknya juga sudah melakukan program pengangkatan air permukaan tanah dari sungai-sungai ke sawah di daerhnya di Kutowinangun. Juga kita menggunakan sumur-sumur bor untuk kebutuhan pengairan.

“Pada musim kemarau pertanian di Salatiga sudah siap,” katanya.

Komandan Kodim 0714 Letkol Budi Darmawan juga berkomitmen membantu ketahanan pangan di Salatiga. Yaitu dengan melakukan gopyokan dan pengawasan terhadap distribusi pupuk dan pengairan petani.

“Salatiga memang tidak terlalu besar. Pengecer pupuknyapun hanya 5 orang. Jadi agak mudah dikondisikan. Terkait geliat pemalsuan pupuk juga aman. Tapi kita akan terus memantau hal tersebut,” tegasnya.

Menurut Ketua Kelompok  Tani Makmur 2 Kecandran, Asadi, pada panen raya kali ini, Kel. Pulutan mampu memproduksi 6 ton per ha, sedangkan Kel. Kecandran 7.5 ton per ha. Panen raya tersebut ditandai dengan pemanenan padi oleh Walikota Salatiga, Yuliyanto dengan menggunakan mesin harvester. (abdillah)

Kelompok Swadaya Masyarakat Penyedia Air Bersih


Dari awalnya prihatin terhadap resapan septic tank yang bisa menyebabkan penyakit di sumur-sumur warga dan belum adanya PDAM. Kini air bersih Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) penyedia air bersih di Pulutan RT 03, RW 04  sudah mempunyai 188 pelanggan air bersih. 

Joko Sumanto, 65 kemarin (9/4) sedang mengarahkan para penggali peralon ukuran 2 in yang ditanam diseberang jalan kampung Pulutan. Di usia yang sudah menginjak senjak, ia ingin mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Melihat kehidupan masyarakat yang kurang sehat di daerah sekitarnya. Lalu ia berinisiatif untuk meminta agar PDAM bisa sampai ke wilayahnya. Pasalnya jarak antara septic tank dengan sumur warga hanya berjarak tidak lebih dari 3 meter. Sehingga rentan menimbulkan berbagai penyakit. Maka akhirnya dengan beberapa warga ia menyurati PDAM. Ditunggu 1 sampai 3 tahun tidak ada tanggapan.

Di samping itu, daerah Pulutan yang ada PDAM, menurut warga hanya mengalir ketika malam hari. Itupun tidak full. Lama tidak ada tanggapan, kemudian warga RT 3 kembali berkumpul. Dirinya lalu menyampaikan usulan kepada warga terkait pembangunan kolam penampungan air. Usai rapat, esoknya Joko mewakili warga mengirim surat ke Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang. Setelah disetujui, warga membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang diketui oleh dirinya Joko Sumanto.

“Di dalam paguyuban tersebut ada ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan teknisi. Kesemuanya berjalan sesuai dengan tupoksinya masing-masing,” jelasnya.

Tidak mudah memang memperjuangkan air bersih di Pulutan. Pasalnya perizinan pralon plastik melewati tanggul, rumah kampung-kampung warga. Jaraknya kurang lebih 1 Km. Sumbernya dari sumur bor di terminal lama. Tapi perjuangan kami dengan bantuan pemerintah tidak sia-sia. Setelah air bisa mengalir permintaan air bersih warga meningkat. Lalu dibuat beberapa bak penampungan agar bisa mengalirkan air bersih sampai luar kampung Pulutan.

“Di depan kuburan, samping SMP Al Azhar, ada tiga tandon ukuran tiga ribu liter. Semua mesin berjalan otomatis. Dan syukurnya, kalau musim kering air tetap lancar,” tandasnya.

Terkait tarif iuran air bersih beragam. Sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Jika keluarga kecil biasanya Rp. 10 ribu bisa Rp. 6 ribu. Paling mahal paling Rp. 25 ribu perbulan. Tapi tetap, nanti uang itu akan kembali ke warga dalam bentuk bantuan ke RT ketika ada kegiatan.

“Sekarang kami sedang menambah pralon, karena daerah yang sudah ada PDAM juga minta diberikan aliran air bersih. Karena katanya air PDAM hanya mengalir malam hari,”.

Terkait kesediaan air bersih, dirinya kadang menyayangkan, masyarakat yang mudah air, kadang tidak menghargai air. Karena ekonomi mampu, kadang air dibiarkaan mengalir seenaknya. Padahal daerah-daerah yang sulit air, air sangat berharga.


“Saya berharap daerah-daerah sulit air bisa melakukan swadaya penyediaan air bersih yang dilakukan oleh warga, tanpa harus menunggu pemerintah. Karena pekerjaaan pemerintah juga saya yakin banyak. Dengan kegiatan swadaya seperti ini. Saya yakin tidak ada lagi daerah yang kekuaraangan air,” pungkasnya. (abdillah).     

Muncul Jajanan Anak Sekolah, Bahayakan Kesehatan

SALATIGA—Dinas Kesehatan Salatiga baru-baru ini menemukan beberapa jajanan anak-anak mengandung zat pewarna tekstil yang membahayakan kesehatan anak. Dari total sampel yang telah diteliti sebanyak 366 sampel makanan. 4 sampel mengandung Rhodamin (pewarna tekstil) atau 0,55 %  dan 2 sampel mengandung methanil yellow atau 0,27 %. Tapi penelitian ini baru merupakan sempel. Jika dilakukan secara keseluruhan mungkin hasilnya bisa bertambah.

Kepada wartawan, Supriyo, 45, penjual es krim di depan Sekolah Dasar Negeri 05 Salatiga mengatakan, jika dirinya selalu menjaga kualitas barang yang dijualnya. Dia mengaku tidak tega menjual makanan dengan mencampur zat pewarna tekstil. Meski bisa lebih menghemat biaya.
“Tidak, tidak mungkin berani saya menggunakan bahan pewarna tekstil. Saya juga punya anak kecil. Tidak mungkin member bahan bahan bahaya seperti itu,” tegasnya.

Kepala Sekolah SMK Sultan Fatah, Nur Rofik, mengatakan dinas terkait perlu melakukan pengecakan. Tidak hanya terkait pewarna. Tapi juga pengawet dan kualitas bahan makanan. Biarlah guru mengajar. Yang harus menangani ini tentu Dinas Kesehatan dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM.
“Saya berharap ada tindakan nyata dari dinas. Jika ada temuan seperti itu. Karena jika tidak segera ada solusi, kasihan anak,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan, Sovie Haryanti, mengatakan selama ini Dinas kesehatan rutin melakukan pembinaan kepada pedagang keliling di sekolah-sekolah secara periodik. Jumlahnya kadang mencapai 70 orang. Kadang 30 orang. Dengan berganti-ganti. Selain itu, pihaknya juga sering melakukan pengawasan dan pengecekan dengan sembunyi-sembunyi. Jika terbukti menggunakan zat terlarang. Langsung dipanggil dan diberikan pembinaan.

Dinas Kesehatan saat ini sudah berusaha mengantisipasi menjamurnya jajanan anak-anak yang mengandung zat berbahaya di warung-warung dan sekolahan. Caranya dengan memberikan pembinaan kepada penjaja makanan anak.

“Memang untuk mengawasi pedagang kaki lima yang jumlahnya ratusan di Salatiga tidak mudah. Tapi selama ini kita terus melakukan pengecekan. Dan juga sampai saat ini belum ada temuan terkain penggunaan borax atau zat-zat terlarang lainnya. Tapi tetap kami berharap kepada masyarakat untuk waspada dan melaporkan jika ada pedagang makanan nakal,” katanya.


Hal senada juga diungkapkan oleh Gati Setiti lebih aman jika para murid mengkonsumsi makanan yang telah disediakan di dalam kantin sekolah. Di samping lebih higienis, juga kualitas makanannya lebih bisa diawasi. Menurutnya, bahaya zat-zat yang tidak layak konsumsi, tidak langsung. Tapi jangka panjang. Jadi, secara tidak langsung, hal-hal seperti itu, sifatnya membunuh anak-anak dengan pelan-pelan. (SuaraJateng)

Komplotan Pembobol ATM Asal Lampung Ditangkap

SALATIGA—Komplotan pembobol Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di area SPBU di Sayangan Jalan Patimura, Salatiga, berhasil dibekuk Satuan Resmob Polres Salatiga, Jumat (10/4) siang. Pembobol yang diduga berasal dari komplotan Lampung tersebut terdiri dari Sembilan orang, 5 diantaranya berhasil diringkus  di rumah kos depan Polsek Tengaran (Klero), Kabupaten Semarang.

Keterangan yang dihimpun oleh wartawan di lokasi kejadian, komplotan beraksi dengan menggunakan mobil yang diduga bodong. Kerugian ditaksir mencapai 10 juta rupiah. Saat akan melakukan aksi kedua kalinya. Petugas berhasil mengawasi dan mengikuti tempat persembunyian mereka. Saat akan ditangkap, 9 pelaku mencoba melarikan diri. Tak ayal polisi akhirnya mengeluarkan timah panas dan mengenai 3 orang pelaku. 5 ditangkap dan 4 diantarany masih dalam penegejaran.

"Kami menduga tersangka belum keluar Jawa. Masih sekitar sini juga," ujar seorang salah seorang sumber di Polres.

Dalam penyergapan yang dipimpin oleh AKP Moch Zazid siang kemarin, petugas juga sempat mengamankan sebuah mobil hitam yang diduga sebagai sarana komplotan ini beraksi di Salatiga. Dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) serta keterangan para saksi dan rekaman CCTV di depan ATM, diketahui bahwa kawanan bukan warga Salatiga, melainkan komplotan dari Sumatera. Dari penyelidikan diketahui, kelima pelaku berada di Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang diduga di sebuah tempat kos.

"Komplotan sebanyak lima orang ini berhasil ditangkap dan empat tersangka lain  kabur. Petugas masih melakukan pemeriksaan," lanjut sumber di Polres Salatiga, Jumat (10/4) sore.

Dalam penggerebekan siang kemarin, sempat menjadi tontonan warga sekitar. Bahkan, saat digelandang warga yang menonton sempat pula mengabadikan dengan kamera ponsel. Bahkan beberapa foto penggrebegan sempat keluar di media online dan menjadi perbincangan publik. Karena mereka diduga komplotan begal.  

"Lima orang ditangkap di halaman tempat kos. Wajah pelaku saat digiring ke mobil petugas langsung diborgol dan menunduk terus," ujar Santoso warga Klero kepada wartawan kemarin.

Kapolres Salatiga AKBP RH Wibowo sampai saat ini masih enggan memberikan keterangan. Menurutnya kasus ini  masih dalam pengembangan.

"Jangan dulu, masih dalam pengembangan kita," ujar Kapolres AKBP RH Wibowo kemarin siang. (Abdillah)

Pedagang Pasar Rejosari, Geruduk Kantor Walikota Salatiga


SALATIGA—Puluhan masa yang tergabung dari berbagai aliansi pasar Rejosari menggeruduk ke Kantor Pemerintah Kota Salatiga kemarin (17/3). Mereka menolak pembangunan Pasar Rejosari yang akan dilakukan oleh investor. Karena akan membuat harga lebih tinggi, sehingga tidak terjangkau pedagang. Sementara itu, sistem model investasi ditakutkan akan muncul monopoli yang dilakukan oleh pedagang besar. Maka kemudian pedagang menuntut agar revitalisasi dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


5 orang perwakilan pendemo sempat bersitegang dengan Walikota. Pasalnya sejak awal mediasi, perwakilan pedagang terus berbicara dengan nada tinggi dengan sesekali membentak. Terang saja Walikota naik pitam dan balik membentak. Perwakilan demo akhirnya meminta agar pendemo diperbolehkan masuk di dalam area Pemkot. Kemudian meminta Walikota bersedia menemui pendemo.


Rem Blong, Truk Tronton Sasak 5 Mini Bus


SALATIGA—Diduga mengalami rem blong, truk tronton pengangkut kertas seberat 20 ton, bernopol AG 8292 UA mengalami kecelakaan karambol dengan menghantam satu sepeda motor dan lima minibus, kemarin (11/3) pukul 04.20 pagi. Tidak ada korban dalam kecelakaan tersebut. Motor Yamaha Mio nopo H 3631 Gi tergencet minibus dan 2 minibus  mengalami rusak dan hampir terguling karena tertimpa muatan kertas.


Dari informasi yang berhasil dihimpun di tempat kejadian, truk tronton yang dikemudikan oleh Eko Agus, 32 warga semampir, kota Kediri mengalami rem blong saat melintas di Jalan Veteran (pasar sapi) dari arah Solo. Panik, Eko menghantamkan truknya ke traffick light. Kemudian menghantam motor milik Mimbar, 45, warga Rembes, Watuagung, Tuntang. Untung, Mimbar yang sempat terpental bersama motornya bisa menyelamatkan diri. Truk belum berhenti. 3 Minibus H 1618 FC, H 1593 dan H 1495 BC yang berada di seberang jalan ikut tertabrak. Truk berhenti, setelah Eko membanting stir truknya ke kanan sehingga truknya terguling. Ironisnya muatan truk yang berisi gulungan kerta berjumlah 50 gulung/1 gulung 400 kg, tersebut menghantam 2 bus yang sedang parkir menunggu penumpang di pinggir jalan. 


Pencurian Ikan Di Rawa Pening, Resahkan Petani Ikan


Bawen—Petani ikan di Rawa Pening, Desa Sumurup,  Kecamatan Bawen akhir-akhir ini gelisah dengan maraknya pencurian di karamba ikan milik warga. Pasalnya aksi pencurian tidak dilakukan hanya pada malam hari, tapi juga siang hari. Jika malam modusnya adalah dengan menjaring ikan di dalam karamba. Jika siang, adalah dengan menjebol jaring bawa karamba dan kemudian memancingi dari luar, seolah-olah karamba aman.


Sapto Ari, 28 warga Sumurup, mengatakan jika kejadian ini sudah terjadi beberapa kali. Dirinya juga menangkarkan lele di rawa. Setiap siang dan malam, dia bersama pegawainya harus rutin jaga. Agar tidak terjadi kemalingan lagi. Kalau siang, biasanya ada beberapa pemancing yang nakal dan merobek jaring bawah karamba, sehingga petani tidak tahu kalau ikan di dalam karamba sudah habis karena ikannya keluar jaring.

Rem Blong, Truk Semen Ngglempang


SALATIGA—Rem blong, sebuah truk pengaduk semen dengan nomor polisi H 9245 NK terperosok ke dalam tanah bengkok di perempatan Jalan Lingkar Salatiga (JLS) Kumpulrejo, Minggu (8/3) sore. Tidak ada korban meninggal. Hanya 5 orang mengalami luka berat dan dibawa ke RSUD Salatiga, diantaranya 2 kernet, Supriyanto, 28 dan Wagimin, 34 dan 3 pengendara sepeda motor.


Sopir truk, Sukiman, 30, warga Sendang Haji, Cilacap mengatakan sengaja mengarahkan truk tersebut ke tanah bengkok untuk menghindari jatuhnya korban. Lebih lanjut, dia mengaku sudah membunyikan klakson berkali-kali sejak tahu remnya blong di tanjakan salib putih. Hal itu dilakukannya agar pengatur lalu lintas di bawah tahu, bahwa truknya mengalami blong. Sehingga bisa segera memberhentikan mobil dan motor yang berada di bawah.  

Korem 073 : Akan mengawal Distribusi Pupuk Ke Petani


TENGARAN – Banyaknya keluhan petani tentang keterlambatan pupuk di wilayah Korem 073, membuat Danrem 073/ Makutarama Kolonel Kav Bueng Wardadi berjanji akan membantu pemerintah mengawal pupuk dari pabrik sampai ke petani. Pasalnya salah satu indikasi menjamurnya produk pupuk oplosan adalah karena keterlambatan pupuk di lapangan. Sehingga petani terpaksa membeli pupuk yang ada dengan harga yang lebih murah.


Kolonel Kav Bueng Wardadi mengatakan, "Dengan adanya penemuan di Demak, Purwodadi dan Semarang beberapa waktu terakhir ini, kami telah mengarahkan ratusan Babinsa untuk mengawasi dan melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok. Terutama, dalam hal distribusi pupuk. Dan kini juga kita tingkatkan, dengan dengan mengawal distribusi pupuk dari pabrik sampai ke petani. Hal ini dilakukan agar pemerintah bisa terbantu dalam menanggulangi perbuatan nakal para pengoplos pupuk," ungkap di sela-sela panen jagung, Senin (9/3).  
 
Support : Creating Website | SuaraJateng | SuaraJateng
Copyright © 2013. SUARA JATENG - All Rights Reserved